Idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki oleh pemuda.


Tan Malaka, Bapak Revolusi penggagas konsep Republik Indonesia pertama.

Sejarah singkat gerakan rakyat

Pemuda dan kaum terpelajar Pemuda adalah bagian terpenting dari sejarah kemerdekaan Indonesia, generasi penerus bangsa yang menjadi pilar-pilar kokoh kekuatan bangsa. Dalam sejarah, pemuda memiliki peran khusus dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, melalui organisasi-organisasi pergerakan, ide dan gagasan mereka menjadi kekuatan lahirnya perlawanan. Sebut saja Tirto Abdi Soeryo (Sang Pemula :pramoedya Ananta Toer), Mas Marco kartodikromo, Suwardi Suryoningrat inilah generasi pertama dan perintis yang dengan sadar melawan Ketertindasan oleh Penjajah belanda.

Budi Utomo lahir sebagai organisasi yang bercorak nasionalisme pun lahir dari kaum muda dan terpelajar seperti Dr Cipto Mangunkusumo, Dr Soetomo, Dr Wahidin Sudiro Husodo. Haji Agus Salim, HOS Tjokroaminoto, dan tokoh tokoh Serekat Islam lainnya adalah tokoh terpelajar di jamannya yang menentang penjajahan Belanda. Ataupun tokoh serekat Islam yang lebih Progresif lagi, ada Semaun yang umur 16 tahun sudah memimpin Organisasi SI cabang Semarang dan aktif dalam pemogokan Buruh Kereta Api, atau Haji Misbach seorang haji dan juga pedagang yang terlibat aktif dalam pegerakan rakyat di surakarta, juga memimpin SI cabang Surakarta. Meskipun akhirnya SI pecah menjadi 2 yaitu SI Putih yang dimotori Haji Agus salim dan HOS Tjokroaminoto dan SI Merah yang dimotori semaun dkk yang akhirnya berubah menjadi Serekat Rakyat. Serekat rakyat berkembang menjadi partai komunis indonesia, yang pada tahun 1926 melakukan pemberontakan kepada belanda seluruh tokohnya diasingkan termasuk didalamnya adalah semaun, Darsono, dan juga Datuk Sutan Ibrahim (Tan Malaka) yang menulis tentang Naar de Republiek Indonesia (Menuju republik Indonesia).

Ketika para pemuda masih terikat dalam perhimpunan-perhimpunan kedaerahan, pada tanggal 20 Februari 1927, Syahrir termasuk dalam sepuluh orang penggagas pendirian himpunan pemuda nasionalis, Jong Indonesië. Perhimpunan itu kemudian berubah nama jadi Pemuda Indonesia yang menjadi motor penyelenggaraan Kongres Pemuda Indonesia. Kongres monumental yang mencetuskan Sumpah Pemuda pada 1928.

Sebagai siswa sekolah menengah, Syahrir sudah dikenal oleh polisi Bandung sebagai pemimpin redaksi majalah himpunan pemuda nasionalis. Dalam kenangan seorang temannya di AMS, Syahrir kerap lari digebah polisi karena membandel membaca koran yang memuat berita pemberontakan PKI 1926; koran yang ditempel pada papan dan selalu dijaga polisi agar tak dibaca para pelajar sekolah.

Pada tahun 1926, Soekarno mendirikan Algemeene Studie Club (ASC) di Bandung yang merupakan hasil inspirasi dari Indonesische Studie Club oleh Dr. Soetomo. Organisasi ini menjadi cikal bakal Partai Nasional Indonesia yang didirikan pada tahun 1927. Aktivitas Soekarno di PNI menyebabkannya ditangkap Belanda pada tanggal 29 Desember 1929 di Yogyakarta dan esoknya dipindahkan ke Bandung, untuk dijebloskan ke Penjara Banceuy. Pada tahun 1930 ia dipindahkan ke Sukamiskin dan di pengadilan Landraad Bandung 18 Desember 1930 ia membacakan pledoinya yang fenomenal Indonesia Menggugat, hingga dibebaskan kembali pada tanggal 31 Desember 1931.

Pada bulan Juli 1932, Soekarno bergabung dengan Partai Indonesia (Partindo), yang merupakan pecahan dari PNI. Soekarno kembali ditangkap pada bulan Agustus 1933, dan diasingkan ke Flores. Di sini, Soekarno hampir dilupakan oleh tokoh-tokoh nasional. Namun semangatnya tetap membara seperti tersirat dalam setiap suratnya kepada seorang Guru Persatuan Islam bernama Ahmad Hasan.Pada tahun 1938 hingga tahun 1942 Soekarno diasingkan ke Provinsi Bengkulu, ia baru kembali bebas pada masa penjajahan Jepang pada tahun 1942.

Secara resmi Jepang telah menguasai Indonesia sejak 8 Maret 1942 ketika Panglima Tertinggi Pemerintah Hindia Belanda menyerah tanpa syarat di Kalijati, Bandung. Jepang berhasil menduduki Hindia-Belanda dengan tujuan untuk menguasai sumber-sumber alam, terutama minyak bumi, guna mendukung potensi perang Jepang serta mendukung industrinya. Jawa dijadikan sebagai pusat penyediaan seluruh operasi militer di Asia Tenggara, dan Sumatera menjadi sumber minyak utama.Pada awal pergerakannya, pemerintah militer Jepang bersikap baik terhadap bangsa Indonesia dengan mengaku sebagai saudara tua bangsa Indonesia. Tetapi akhirnya sikap baik itu berubah setelah sekian waktu Jepang menduduki Indonesia. Apa yang ditetapkan pemerintah Jepang seolah mendukung kemerdekaan Indonesia. Jepang juga membentuk organisasi yang akan memperkuat keyakinan Indonesia bahwa Jepang berada di pihaknya. Organisasi-organisasi tersebut antara lain:

  1. Gerakan Tiga A, merupakan organisasi pertama yang didirikan Jepang pada 29 April 1942 yang dipimpin oleh Mr. Syamsuddin.
  2. Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI) atau Majelis Syura Muslimin Indonesia (Masyumi) dibentuk pada 22 November 1943, dibawah pimpinan K.H Hasyim Asy’ari, menjadi organisasi Islam yang didirikan oleh Jepang.
  3. Putera (Pusat Tenaga Rakyat), didirikan pada 1 Maret 1942. Organisasi ini dipimpin oleh empat serangkai, yaitu Ir. Soekarno, Drs. Mohammad Hatta, Ki Hajar Dewantara, dan K.H. Mas Mansyur.
  4. Jawa Hokokai (Himpunan Kebaktian Jawa), didirikan pada 8 Januari 1944. Organisasi ini dipimpin oleh pejabat-pejabat Jepang. Yang melawan kekejaman jepang juga dimotori oleh anak muda seperti Supriyadi (Peta ) ataupun Kyai Zaenal mustafa (Tasikmalaya).

Peristiwa Rengasdengklok adalah peristiwa penculikan yang dilakukan oleh sejumlah pemuda antara lain SoekarniWikanaAidit dan Chaerul Saleh dari perkumpulan “Menteng 31” terhadap Soekarno dan Hatta. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 16 Agustus 1945 pukul 03.00. WIB, Soekarno dan Hatta dibawa ke RengasdengklokKarawang, untuk kemudian didesak agar mempercepat proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia,sampai dengan terjadinya kesepakatan antara golongan tua yang diwakili Soekarno dan Hatta serta Mr. Achmad Subardjo dengan golongan muda tentang kapan proklamasi akan dilaksanakan terutama setelah Jepang mengalami kekalahan dalam Perang Pasifik.

Peristiwa 10 Nopember 1945 dengan pemuda surabaya menghadang kedatangan sekutu sebagai pemenang perang Dunia II. Dengan berapi-api Bung Tomo mengobarkan semangat untuk melawan sekutu.

Sejak kemerdekaan, muncul kebutuhan akan aliansi antara kelompok-kelompok mahasiswa, di antaranya Perserikatan Perhimpunan Mahasiswa Indonesia (PPMI), yang dibentuk melalui Kongres Mahasiswa yang pertama di Malang tahun 1947.

Selanjutnya, dalam masa Demokrasi Liberal (1950-1959), seiring dengan penerapan sistem kepartaian yang majemuk saat itu, organisasi mahasiswa ekstra kampus kebanyakan merupakan organisasi dibawah partai-partai politik. Misalnya, GMKI Gerakan Mahasiswa kristen Indonesia, PMKRI Perhimpunan Mahasiswa Katholik Republik Indonesia dengan Partai Katholik,Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) dekat dengan PNI, Concentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI) dekat dengan PKI, Gerakan Mahasiswa Sosialis Indonesia (Gemsos) dengan PSI, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) berafiliasi dengan Partai NU, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dengan Masyumi, dan lain-lain.

Di antara organisasi mahasiswa pada masa itu, CGMI lebih menonjol setelah PKI tampil sebagai salah satu partai kuat hasil Pemilu 1955. CGMI secara berani menjalankan politik konfrontasi dengan organisasi mahasiswa lainnya, bahkan lebih jauh berusaha memengaruhi PPMI, kenyataan ini menyebabkan perseteruan sengit antara CGMI dengan HMI dan, terutama dipicu karena banyaknya jabatan kepengurusan dalam PPMI yang direbut dan diduduki oleh CGMI dan juga GMNI-khususnya setelah Konggres V tahun 1961.

Mahasiswa membentuk Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) tanggal 25 Oktober 1966 yang merupakan hasil kesepakatan sejumlah organisasi yang berhasil dipertemukan oleh Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pendidikan (PTIP) Mayjen dr. Syarief Thayeb, yakni PMKRI, HMI,PMII,Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), Sekretariat Bersama Organisasi-organisasi Lokal (SOMAL), Mahasiswa Pancasila (Mapancas), dan Ikatan Pers Mahasiswa (IPMI). Tujuan pendiriannya, terutama agar para aktivis mahasiswa dalam melancarkan perlawanan terhadap PKI menjadi lebih terkoordinasi dan memiliki kepemimpinan.

Munculnya KAMI diikuti berbagai aksi lainnya, seperti Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia (KAPI), Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI), Kesatuan Aksi Sarjana Indonesia (KASI), dan lain-lain.

Pada tahun 1965 dan 1966, pemuda dan mahasiswa Indonesia banyak terlibat dalam perjuangan yang ikut mendirikan Orde Baru. Gerakan ini dikenal dengan istilah Angkatan ’66, yang menjadi awal kebangkitan gerakan mahasiswa secara nasional, sementara sebelumnya gerakan-gerakan mahasiswa masih bersifat kedaerahan. Tokoh-tokoh mahasiswa saat itu adalah mereka yang kemudian berada pada lingkar kekuasaan Orde Baru, di antaranya Cosmas Batubara (Eks Ketua Presidium KAMI Pusat), Sofyan WanandiYusuf Wanandi ketiganya dari PMKRI,Akbar Tanjung dari HMI dll. Angkatan ’66 mengangkat isu Komunis sebagai bahaya laten negara. Gerakan ini berhasil membangun kepercayaan masyarakat untuk mendukung mahasiswa menentang Komunis yang ditukangi oleh PKI (Partai Komunis Indonesia). Setelah Orde Lama berakhir, aktivis Angkatan ’66 pun mendapat hadiah yaitu dengan banyak yang duduk di kursi DPR/MPR serta diangkat dalam kabinet pemerintahan Orde Baru.

Realitas berbeda yang dihadapi antara gerakan mahasiswa 1966 dan 1974, adalah bahwa jika generasi 1966 memiliki hubungan yang erat dengan kekuatan militer, untuk generasi 1974 yang dialami adalah konfrontasi dengan militer.

Sebelum gerakan mahasiswa 1974 meledak, bahkan sebelum menginjak awal 1970-an, sebenarnya para mahasiswa telah melancarkan berbagai kritik dan koreksi terhadap praktik kekuasaan rezim Orde Baru, seperti:

Diawali dengan reaksi terhadap kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), aksi protes lainnya yang paling mengemuka disuarakan mahasiswa adalah tuntutan pemberantasan korupsi. Lahirlah, selanjutnya apa yang disebut gerakan “Mahasiswa Menggugat” yang dimotori Arif Budiman yang progaram utamanya adalah aksi pengecaman terhadap kenaikan BBM, dan korupsi.

Menyusul aksi-aksi lain dalam skala yang lebih luas, pada 1970 pemuda dan mahasiswa kemudian mengambil inisiatif dengan membentuk Komite Anti Korupsi (KAK) yang diketuai oleh Wilopo. Terbentuknya KAK ini dapat dilihat merupakan reaksi kekecewaan mahasiswa terhadap tim-tim khusus yang disponsori pemerintah, mulai dari Tim Pemberantasan Korupsi (TPK), Task Force UI sampai Komisi Empat.

Berbagai borok pembangunan dan demoralisasi perilaku kekuasaan rezim Orde Baru terus mencuat. Menjelang Pemilu 1971, pemerintah Orde Baru telah melakukan berbagai cara dalam bentuk rekayasa politik, untuk mempertahankan dan memapankan status quo dengan mengkooptasi kekuatan-kekuatan politik masyarakat antara lain melalui bentuk perundang-undangan. Misalnya, melalui undang-undang yang mengatur tentang pemilu, partai politik, dan MPR/DPR/DPRD.

Muncul berbagai pernyataan sikap ketidakpercayaan dari kalangan masyarakat maupun mahasiswa terhadap sembilan partai politik dan Golongan Karya sebagai pembawa aspirasi rakyat. Sebagai bentuk protes akibat kekecewaan, mereka mendorang munculnya Deklarasi Golongan Putih (Golput) pada tanggal 28 Mei 1971 yang dimotori oleh Arif Budiman, Adnan Buyung NasutionAsmara Nababan.

Dalam tahun 1972, mahasiswa jtyang bernama aji uga telah melancarkan berbagai protes terhadap pemborosan anggaran negara yang digunakan untuk proyek-proyek eksklusif yang dinilai tidak mendesak dalam pembangunan,misalnya terhadap proyek pembangunan Taman Mini Indonesia Indah (TMII) di saat Indonesia haus akan bantuan luar negeri.

Protes terus berlanjut. Tahun 1972, dengan isu harga beras naik, berikutnya tahun 1973 selalu diwarnai dengan isu korupsi sampai dengan meletusnya demonstrasi memprotes PM Jepang Kakuei Tanaka yang datang ke Indonesia dan peristiwa Malari pada 15 Januari 1974. Gerakan mahasiswa di Jakarta meneriakan isu “ganyang korupsi” sebagai salah satu tuntutan “Tritura Baru” disamping dua tuntutan lainnya Bubarkan Asisten Pribadi dan Turunkan Harga; sebuah versi terakhir Tritura yang muncul setelah versi koran Mahasiswa Indonesia di Bandung sebelumnya. Gerakan ini berbuntut dihapuskannya jabatan Asisten Pribadi Presiden.

Setelah peristiwa Malari, hingga tahun 1975 dan 1976, berita tentang aksi protes mahasiswa nyaris sepi. Mahasiswa disibukkan dengan berbagai kegiatan kampus disamping kuliah sebagain kegiatan rutin, dihiasi dengan aktivitas kerja sosial, Kuliah Kerja Nyata (KKN), Dies Natalis, acara penerimaan mahasiswa baru, dan wisuda sarjana. Meskipun disana-sini aksi protes kecil tetap ada.

Menjelang dan terutama saat-saat antara sebelum dan setelah Pemilu 1977, barulah muncul kembali pergolakan mahasiswa yang berskala masif. Berbagai masalah penyimpangan politik diangkat sebagai isu, misalnya soal pemilu mulai dari pelaksanaan kampanye, sampai penusukan tanda gambar, pola rekruitmen anggota legislatif, pemilihan gubernur dan bupati di daerah-daerah, strategi dan hakikat pembangunan, sampai dengan tema-tema kecil lainnya yang bersifat lokal. Gerakan ini juga mengkritik strategi pembangunan dan kepemimpinan nasional.

Awalnya, pemerintah berusaha untuk melakukan pendekatan terhadap mahasiswa, maka pada tanggal 24 Juli 1977 dibentuklah Tim Dialog Pemerintah yang akan berkampanye di berbagai perguruan tinggi. Namun, upaya tim ini ditolak oleh mahasiswa. Pada periode ini terjadinya pendudukan militer atas kampus-kampus karena mahasiswa dianggap telah melakukan pembangkangan politik, penyebab lain adalah karena gerakan mahasiswa 1978 lebih banyak berkonsentrasi dalam melakukan aksi diwilayah kampus. Karena gerakan mahasiswa tidak terpancing keluar kampus untuk menghindari peristiwa tahun 1974, maka akhirnya mereka diserbu militer dengan cara yang brutal. Hal ini kemudian diikuti oleh dihapuskannya Dewan Mahasiswa dan diterapkannya kebijakan NKK/BKK di seluruh Indonesia.

Soeharto terpilih untuk ketiga kalinya dan tuntutan mahasiswa pun tidak membuahkan hasil. Meski demikian, perjuangan gerakan mahasiswa 1978 telah meletakkan sebuah dasar sejarah, yakni tumbuhnya keberanian mahasiswa untuk menyatakan sikap terbuka untuk menggugat bahkan menolak kepemimpinan nasional.

Gerakan bersifat nasional namun tertutup dalam kampus, Oktober 1977

Gerakan mahasiswa tahun 1977/1978 ini tidak hanya berporos di Jakarta dan Bandung saja namun meluas secara nasional meliputi kampus-kampus di kota SurabayaMedanBogor, Ujungpandang (sekarang Makassar), dan Palembang[1] 28 Oktober 1977, delapan ribu anak muda menyemut di depan kampus ITB. Mereka berikrar satu suara, “Turunkan Suharto!”. Besoknya, semua yang berteriak, raib ditelan terali besi. Kampus segera berstatus darurat perang. Namun, sekejap kembali tentram.[2]

Peringatan Hari Pahlawan 10 November 1977, berkumpulnya mahasiswa kembali

November 1977, di Surabaya dipenuhi tiga ribu jiwa muda. Setelah peristiwa di ITB pada Oktober 1977, giliran Kampus ITS Baliwerti beraksi. Dengan semangat pahlawan, berbagai pimpinan mahasiswa se-Jawa hadir memperingati hari Pahlawan 1977. Seribu mahasiswa berkumpul, kemudian berjalan kaki dari Baliwerti menuju Tugu Pahlawan.

Sejak pertemuan 28 Oktober di Bandung, ITS didaulat menjadi pusat konsentrasi gerakan di front timur. Hari pahlawan dianggap cocok membangkitkan nurani yang hilang. Kemudian disepakati pusat pertemuan nasional pimpinan mahasiswa di Surabaya.

Sementara di kota-kota lain, peringatan hari Pahlawan juga semarak. Di Jakarta, 6000 mahasiswa berjalan kaki lima kilometer dari Rawamangun (kampus IKIP) menuju Salemba (kampus UI), membentangkan spanduk,”Padamu Pahlawan Kami Mengadu”. Juga dengan pengawalan ketat tentara.

Acara hari itu, berwarna sajak puisi serta hentak orasi. Suasana haru-biru, mulai membuat gerah. Beberapa batalyon tempur sudah ditempatkan mengitari kampus-kampus Surabaya. Sepanjang jalan ditutup, mahasiswa tak boleh merapat pada rakyat. Aksi mereka dibungkam dengan cerdik.

Konsolidasi berlangsung terus. Tuntutan agar Soeharto turun masih menggema jelas, menggegerkan semua pihak. Banyak korban akhirnya jatuh. Termasuk media-media nasional yang ikut mengabarkan, dibubarkan paksa.

Pimpinan Dewan Mahasiswa (DM) ITS rutin berkontribusi pada tiap pernyataan sikap secara nasional. Senat mahasiswa fakultas tak henti mendorong dinamisasi ini. Mereka bergerak satu suara. Termasuk mendukung Ikrar Mahasiswa 1977. Isinya hanya tiga poin namun berarti. “Kembali pada Pancasila dan UUD 45, meminta pertanggungjawaban presiden, dan bersumpah setia bersama rakyat menegakan kebenaran dan keadilan”.[2]

Peringatan Tritura 10 Januari 1978, dihentikannya gerakan

Peringatan 12 tahun Tritura, 10 Januari 1978, peringatan 12 tahun Tritura itu jadi awal sekaligus akhir. Penguasa menganggap mahasiswa sudah di luar toleransi. Dimulailah penyebaran benih-benih teror dan pengekangan.

Sejak awal 1978, 200 aktivis mahasiswa ditahan tanpa sebab. Bukan hanya dikurung, sebagian mereka diintimidasi lewat interogasi. Banyak yang dipaksa mengaku pemberontak negara.

Tentara pun tidak sungkan lagi masuk kampus. Berikutnya, ITB kedatangan pria loreng bersenjata. Rumah rektornya secara misterius ditembaki orang tak dikenal.

Di UI, panser juga masuk kampus. Wajah mereka garang, lembaga pendidikan sudah menjadi medan perang. Kemudian hari, dua rektor kampus besar itu secara semena-mena dicopot dari jabatannya. Alasannya, terlalu melindungi anak didiknya yang keras kepala.

Di ITS, delapan fungsionaris DM masuk “daftar dicari” Detasemen Polisi Militer. Sepulang aksi dari Jakarta, di depan kos mereka sudah ditunggui sekompi tentara. Rektor ITS waktu itu, Prof Mahmud Zaki, ditekan langsung oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan untuk segera membubarkan aksi dan men-drop out para pelakunya. Sikap rektor seragam, sebisa mungkin ia melindungi anak-anaknya.

Beberapa berhasil tertangkap, sisanya bergerilya dari satu rumah ke rumah lain. Dalam proses tersebut, mahasiswa tetap “bergerak”. Selama masih ada wajah yang aman dari daftar, mereka tetap konsolidasi, sembunyi-sembunyi. Pergolakan kampus masih panas, walau Para Rektor berusaha menutupi, intelejen masih bisa membaca jelas.

Periode tahun 80an gerakan mahasiswa tiarap, karena saat itu muncul program pemerintah namanya PETRUS (Penembakan Misterius) untuk membasmi preman dan gali. Inilah bentuk nyata teror negara terhadap warganya. Mahasiswa dan aktivis rakyat merubah perlawanannya dengan membentuk kelompok studi-kelompok studi serta mulai turut terlibat langsung advokasi persoalan rakyat dibawah. Muncullah Forum Mahasiswa di berbagai kota. Di surabaya muncullah FKMS (Forum Komunikasi Mahasiswa Surabaya), di Malang ada FKMM(Forum Komunikasi Mahasiswa Malang), juga di Yogjakarta, Bandung, dan juga di jakarta saat itu munnculah PIJAR. Selain itu juga mulai banyaknya aktivitas NGO (LSM) yang mendampingi rakyat bersama mahasiswa misal LBH, Bina Desa, yang konsen terhadap advokasi persoalan Rakyat. Selain forum diakhir tahun 80an munculah SMID (Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi) di Yogyakarta yang kemudian hari melahirkan PRD (Partai Rakyat Demokratik). Sedangkan banyak organisasi Ektra kampus saat itu mulai pecah, misal HMI DIPO dan MPO, Di GMNI juga seperti itu. Hal ini muncul karena kebijakan rezim Soeharto tentang Azas Tunggal pancasila. Sedangkan di masjid-masjid kampus mulai banyak halaqoh-halaqoh (kelompok Kajian) yang dipelopori oleh aktivis islam IPB, ITB, UI.

Awal tahun 90an, tepatnya 24 Desember 1993, FAMI (Front Aksi Mahasiswa Indonesia) yang merupakan aliansi dari Forum Komunikasi Mahasiswa beberapa kota besar di Indonesia melakukan demo digedung DPR RI dengan isue utama Turunkan Soeharto, dan berakhir dengan ditangkapnya 21 mahasiswa. Salah satunya dari ITS yaitu Gunardi Jurusan Statistika MIPA. Pada tahun ini pula ada peristiwa politik tampilnya Megawati sebagai ketua Umum PDI menggantikan Suryadi tetapi hal ini ditolak rezim Soeharto. Puncaknya adalah peristiwa pengambil alihan kantor DPP PDI oleh Rezim dengan Aparatnya pada tanggal 27 Juli 1996 dengan ratusan korban yang tak terekpose. PRD menjadi Kambing hitam peristiwa itu, aktivisnya diburu dan ditangkap. Menjelang pemilu 1997 banyak terjadi penculikan aktivis rakyat yang hilang sampai hari ini.

Awal tahun 1998, di kampus ITS diwarnai dengan intensitas diskusi dan aksi mimbar bebas mahasiswa dan aktivis rakyat lainnya untuk menyikapi kondisi yang ada. Selain itu juga mulai menjalin dan merajut kampus kampus Surabaya dalam satu wadah Arek Pro Reformasi (APR), selain itu juga menggalang di kampung kampung Surabaya yang akhirnya lahirlah Arek Suroboyo Pro reformasi (ASPR). Akhirnya tanggal 21 Mei 1998 Soeharto menyatakan mundur dan digantikan wakilnya Habibi. Pada masa ini gerakan Mahasiswa mulai terpolaraisasi terhadap naiknya habibi sebagai Presiden. Ada pro dan kontra, inilah munculnya Pamswakarsa yang dibentuk oleh Wiranto untuk mengahadapi demo-demo mahasiswa. Pamswakarsa ini merupakan cikal bakal berdirinya FPI, Laskar Jihad dan Forum Betawi Rempug.

Masa periode tahun 2000an mahasiswa semakin terpolarisasi politik aliran, meskipun bibit itu tumbuh pada masa tahun sebelumnya. Kelompok islam politik semakin kelihatan dengan munculnya Partai Keadilan yang kemudian berubah menjadi Partai Keadilan Sejahtera, meskipun muncul pula PAN, PPP, PKB yang sama-sama basisnya islam. Sedangkan Partai Rakyat Demokratik (PRD) yang representasi dari SMID kalah bersaing di pemilu 1999 pasca Habibi. Demonstrasi semakin marak tapi tidak terarah karena ruang kebebasan yang terbuka, siapapun bisa mengungkapkan pendapat lewat demonstrasi. Gerakan mahasiswa mulai lesu. Mahasiswa semakin lesu dengan beban kuliah yang tinggi.

Situasi Hari ini

Kondisi masayarakat hari ini semakin terkotak-kotak. Hal ini semakin tampak ketika Pilkada DKI Jakarta. Rakyat terpecah menjadi dua dan saling berhadap-hadapan. Antara pro anies (representasi kelompok Islam Politik ) dan kelompok pro ahok yang mengusung kebinekaan. Situasi terbawa sampai PilPres 2019 antara Prabowo dan Jokowi. Kerentanan yang ada di masyarakat ini semakin diperparah elit politik yang melakukan politik transaksional “dagang sapi”. Banyak agenda rakyat yang dilupakan terutama pemenuhan hak-hak sipil yang tak terlindungi. Penggusuran atas nama kepentingan negara masih terjadi dimana-mana. Pembalakan hutan masih juga menjadi rutinitas tahunan dengan kebakaran hutannya. Meskipun pembangunan juga mulai merata. Kualitas lembaga negara juga tidak semakin baik. Korupsi semakin merambah dari kota besar sampai desa yang terpencil. Tiba-tiba muncul demo Mahasiswa yang mengusung perlindungan Hak-hak Sipil ini harapan baru untuk dan lebih maju dari generasi sebelumnya. Situasi krisis yang selalu menjadi pemicu munculnya demonstrasi besar, hari ini tidak ada krisis tetapi mahasiswa mulai mengusung isu tentang hak-hak warga negara lewat pencermatan Undang-undang yang dibuat legislatif. Terus berjuang bung. Ajak rakyat Paham akan Hak-Haknya, Vivat ITS.

Penulis:
Ru’yat

  • Pendamping Desa Kab. Magetan
  • Panelis K-JAM